Selamat bertemu...

Ku cari titik tuk mengakhiri, setiap dapat ku tak bisa berhenti, Ku mau berhenti tapi aku tak bisa temukan titik, Bagaimana mengakhiri ini tanpa titik....

Jumat, 22 Juni 2012

Mutiara


Apa yang kita kerjakan sehari-hari adalah menguji dan berusaha menebar kasih. Hari-hari yang kita lewati penuh ujian akan kasih, itulah proses menuju dewasa ... 

Senin, 11 Juni 2012

Hasrat Memuncak, Nyawa Perawan Jadi Tebusan


Sesosok gadis cantik ditemukan dalam keadaan tak beryawa di bawa Jembatan Sungai Liwason, Desa Teep, Amurang, Minahasa Selatan, Senin 21 Mei 2012 pagi hari sekitar pukul 10.00 WITA . Dalam waktu singkat kabar penemuan mayat tak beridentitas itu tak hanya menggemparkan Amurang tapi hingga seantero Sulawesi Utara.
Entah siapa gadis ini, tetapi siapa pun pelakunya oleh warga telah dicap sadis dan tidak berperikemanusian karena tegah menghilangkan nyawa manusia bahkan membuangnya begitu saja. Sementara itu jauh dari Minahasa Selatan, tepatnya di Desa Sawangan Kecamatan Airmadidi, Minahasa Utara, pasangan Megi Rumambi dan Jeffy Panelewen kebingungan putri kesayangannya Wanda Virtha Panelewen (17) tak kunjung pulang sejak Minggu 20 Mei 2012 malam.

Dengan rasa khawatir yang mendalam dan panik, Megi mendatangi Polres Minut untuk melaporkan putrinya itu dibawa kabur oleh temannya lelaki Nelson Kouru (27) yang tinggal di wiayah Dimembe. Pasalnya setahu mereka, Wanda siswi kelas tiga SMA Unklab itu belakangan ini sering jalan dengan lelaki yang kerja di Papua itu. Bahkan ketika dihubungi tante dari Wanda, Nelson mengakui jalan namun hanya meninggalkan gadis cantik itu di ujung Desa Sawangan.

Di Sentral Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Minut, polisi menyodorkan surat kabar yang headlinen-nya terpampang seorang gadis tanpa identitas ditemukan di sungai Desa Teep. Seakan tak percaya, namun penasaran dan khawatir Megy mencoba meyakinkan diri bahwa itu bukan anaknya. Namun atas saran polisi Megy diminta ke ruangan jenasah RSUP Kandou untuk memastikan temuan mayat itu.

Bagai disambar geledek, Jeffry saat menatap tubuh tergujur kaku itu ternyata adalah memang putrinya Wanda. Setelah memastikannya, polisi bertindak cepat menahan Nelson yang hampir saja kabur. Apalagi di dompet lelaki itu sudah ada tiket keberangkatan pada Kamis 24 Mei.

Lelaki itu sendiri awalnya bungkam karena masih teguncang dengan tindakan yang diambilnya berakibat fatal. Namun belakanan beberapa jam kemudian Nelson akhirnya mengakui perbuatannya. Nelson menjemput Wanda di rumahnya untuk jalan-jalan, Minggu 20 Mei 2012 malam sekitar pukul 20.00 WITA. Dari rumah lelaki itu membawa siswi SMA itu dengan mobil Xenia berwarna biru muda bernomor polisi DB 4904 QL menuju Airmadidi. Ketika itu kedua bermaksud makan di salah satu rumah makan yang ada di Airmadidi, namun karena tutup, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan melewati Minawerot kemudian memutar di perempatan Kauditan dan kembali melalui jalan by pas. Selanjutnya lelaki bertubuh tinggi besar, berkulit putih itu membawa Wanda ke Desa Tanggari dan berbalik berhenti di perbatasan dengan Desa Sawangan.

Rupanya tersangka selama perjalanan terus merayu korban untuk melakukan hubungan badan. Tetapi korban bersih kukuh tak mau melayani rayuan lelaki itu. Di mobil itu Wanda sudah meminta diturunkan namun tetap tak dikasih olehnya. Saat itu gadis cantik itu berusaha melarikan diri. Tak mau kesempatan itu hilang begitu saja, Nelson mengejar Wanda dan berhasil menangkap wanita itu. Dalam kesunyian malam di perkebunan yang jauh dari pemukiman warga, Wanda tetap pada pendiriannya. Bahkan wanita itu dengan sekuat tenaga memberi perlawanan mendorong Nelson sampai jatuh hingga kakinya luka. Nelson tak mau berhenti di situ, kembali bangkit dan berhasi mengejar Wanda. Kali ini karena gadis itu terus berteriak, Nelson nekat membekap mulutnya dengan telapak tangan. Wanda memang memberikan perlawanan gigih, ia nekat menggigit telapak tangan Nelson yang besar itu hingga luka. Nelson kemudian berusaha membanting Wanda, namun wanita itu tak kalah gigihnya memberikan perlawanan hingga keduanya jatuh. Lelaki itu cepat bangkit dan mencekik leher gadis SMA Klabat tersebut untuk selanjutnya melampiaskan nafsunya.  Pada detik-detik menjelang hayatnya, Wanda masih terus memberikan perlawanan dengan mencakar leher Nelson. Celakanya tindakan Nelson berakibat fatal. Cekikannya telah menewaskan wanita yang diincarnya itu. Nah, luka-luka yang dialaminya itulah kemudian menjadi petunjuk bagi polisi.  

Sadar kalau wanita itu tak berdaya lagi, Nelson kemudian menghentikan cengkramannya. Lelaki itu tak yakin kalau nyawa Wanda telah melayang. “Kita memang mo bagitu pa dia mar nda jadi lantaran so mati. Kita terpaksa cekik dia lantaran terus bataria,” aku Nelson. Dia mencoba menggoyang-goyang tubuh wanita itu supaya bangun tetapi tak tetap tak bergerak. Akhirnya Nelson menuju pancuran kecil untuk membersihkan tubuhnya. Selesai membersihkan diri, dia kembali ke tempat tubuh Wanda tergeletak dan beberapa saat menatapnya sambil berpikir untuk membuang mayat wanita itu. Selain itu lelaki tersebut mencari dompetnya yang jatuh saat berjibaku. Ketika itu dompet tidak ditemukan, namun dia malah menemukan sepasang sandal berwarna biru milik wanita itu yang kemudian diletakannya di bawa pohon.  

Selanjutnya lelaki bertubuh besar itu mengangkat mayat gadis cantik tersebut dan diletakan dalam mobil. Mayat Wanda  kemudian dibawa ke Amurang, sekitar pukul 23.00 WITA. Saat menuju Amurang, Nelson sempat dua kali singgah untuk mengisi bensin. Sampai di jembatan Sungai Liwason, Desa Teep, Amurang, lelaki itu kemudian membuang mayat Wanda ke air. Uniknya saat kembali, Nelson sempat mengangkut empat penumpang yang turun di Manado dan Bandara. Dari Bandara tersangka menuju rumahnya, namun di Jembatan Desa Mapanget, dirinya membuka dan mebuang handphone milik waanita itu  setelah membalas SMS dari tempat gadis cantik itu.

Dalam hasil otopsi memang tidak ditemukan luka pada alat vital korban. Menuru dokter forensik wanda memang masih perawan. Forensik memastikan kalau penyebab kematian Wanda memang akibat cekikan di lehernya.(*)


Selasa, 24 April 2012

Pisau Maut di Tengah Perkebunan Serawet

Suasan Desa Serawet, Kecamatan Likupang, Kabupaten Minahasa Utara yang sehari-hari jauh dari keramaian Rabu 21 Maret 2012, tiba-tiba berubah heboh. Seorang wanita ML alias Maria, berlari ke rumah warga dengan membawa kabar suaminya terluka parah di perkebunan.

Ketika itu matahari baru saja terbenam, kabar mengejutkan disambut kecemasan dan penasaran warga yang langsung menuju perkebunan. Sebagian kemudian menghubungi perangkat desa dan anggota polisi terdekat. Di perkebunan yang letaknya jauh dari permukiman, warga menemukan sosok lelaki yang diketahui bernama Yosua Jurmudi itu terbujur kaku di tanah sekitar pondoknya. Tak jauh dari Sebilah pisau masih menancap di dada lelaki berusia 52 tahun itu.
Darah segar dari luka dasyat itu membanjiri tubuh petani malang itu. Sebagian polisi yang tiba di lokasi langsung melakukan rutinitas prosedur pengolahan tempat kejadian perkara (TKP). Ada ceceran darah dari mayat korban yang ditelusuri mengarah tak jauh dari pondok, mungkin sekitar 20 meter. Di akhir ceceran darah itu makin membanjir. Kepada polisi, Maria mengungkapkan suaminya terpeleset jatuh dan pisau yang dibawanya menikam dirinya sendiri. Polisi kemudian mengevakusi mayat Yosua ke RSUP Malalayang bersama istri Yosua. Tak ada gurat kesedihan dari wajah wanita berusia 40 tahuan dan beranak empat itu. Rupanya gelagat tak wajar dari seseorang yang baru kehilangan pasangan hidupnya itu membawa kecurigaan dari polisi. Apalagi dari jejak darah hingga beberapa meter dari pondok di perkebunan merupakan tanda tanya bagi polisi.
Dalam pemeriksaan awal, wanita itu mengaku suaminya tertancap pisaunya sendiri saat jatuh di kebun. Ketika itu suaminya dan dirinya bersama seorang putranya bermaksud pulang dari kebun. Namun alibi Maria kandas, ketika polisi mengorek latar belakang kehidupan keluarganya yang tak harmonis. Selama bersama suaminya, Maria mengaku sering disiksa. Sungguh menyakitkan, apalagi kalau pasangan hidupnya itu pulang dalam keadaan mabuk. Tak jarang Maria harus menjadi sansak hidup pelampiasan kemarah suaminya. Akhirnya Maria mengakui kalau dirinya tegah menghabisi suaminya lantaran tak tahan disiksa. Suaminya ditikam disaksikan putra sulungnya saat berjalan meninggalkan pondok. Yosua petani kelapa yang menahan sakit dengan pisau masih menancap di dada dengan terseok-seok berusaha kembali ke pondok hingga dijemput ajal.
Sementara putra sulung pasangan itu yang harus menjadi saksi hidup aksi sadis tersebut berada di puncak kebimbangan. Dirinya tak bisa menolong ayahnya dan tak sanggup menghianati ibunya. Air mata tak bisa dibendung dari perasaan bersalah yang mendalam dari lelaki itu. Ternyata dibalik sikap tegar tanpa penyesalan dari Maria, dirinya puas melampiaskan apa yang ditanggungnya selama ini. Pukulan demi pukulan yang diterima dari orang yang dicintainya terbalas sudah dengan satu tikaman mematikan.(***)


 (Sebuah kisah dari kejadian sebenarnya di Likupang 21 Maret 2012.)

Mutiara

Hidup ini penuh dgn pilihan, tapi yang kita butuh sebenarnya keberanian menentukan pilihan dan menjalaninya.

Selasa, 27 Maret 2012

Mutiara

Jangan salahkan dirimu jika semua tidak akan jadi yang terbaik. Sebab yang kita pikirkan baik, belum tentu tepat untuk orang lain. Tidak ada yang sempurna, sehingga ini kembali jadi harapan tak bertepi.

Mutiara

Jika hati kosong, maka otak tidak akan bekerja, apalagi otot...