Selamat bertemu...

Ku cari titik tuk mengakhiri, setiap dapat ku tak bisa berhenti, Ku mau berhenti tapi aku tak bisa temukan titik, Bagaimana mengakhiri ini tanpa titik....

Minggu, 11 Maret 2012

Mutiara

Lari atau sembunyi bukan jalan keluar menyelesaikan masalah. Sebaliknya akan jatuh dan terperosok lagi dalam ketakutan. Hadapilah tantangan itu sebagai kesatria bijak yang lebih mendewasakan diri kta. Jadikanlah kegagalan itu sbg cambuk untuk bangkit dan maju lagi...

Minggu, 04 Maret 2012

Mutiara

Keberhasilan bukan terukur dari hasil yang kita dapat, tapi perjuangan yang kita lakukan merupakan proses dalam kehidupan. Maka jangan heran kalau dalam proses itu banyak warna-warni yang kita kuaskan. Selamat Hari Minggu, GBU

Sabtu, 25 Februari 2012

9 Tahun Membawa Panji Panas Namun Santun


Ku awali dengan langkah nekad di dunia yang belum pernah ku tapaki.
11 tahun merangkai kata, tersusuri jalan keras dan cadas dinamika hidup..
Terjalin perkenalan lebut dan keras, langgeng, singkat bermakna ..
Tertuang dalam cerita dinamika kehidupan, penuh trik, intrik,
Mengungkap rahasia, kenyataan, kejahatan, kebaikan, tragedi dan syukur, sanjungan, ..
Terkemas sebagai catatan yang menjadi kabar...
Menundang berbagai reaksi mendidih dan sejuk
Tanpa terasa sudah sembilan tahun ku melangkah bersama panji Harian Metro.
Membawa dinamika hidup yang panas, namun tertulis santun.. 

Jumat, 17 Februari 2012

Galau

Detik terus berdetik, entah berapa lama ku menerawang..
Tanpa satu aksara pun berhasil ku ukir...
 Walau tak mampu lagi ku tampung semua lukisan itu dalam otak ku
 Sampai akhirnya malam makin meninggi
 Dingin menusuk lamunan...

Senin, 30 Januari 2012

Tumatenden

Sembilan mata air di Airmadidi Bawah melambangkan sembilan bidadari yang datang mandi di Tumatenden. Konon mata air sembilan bidadari ini diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Pemandian sembilan bidadari ini airnya tak pernah surut meski kamarau panjang. Berdasarkan cerita rakyat Kelurahan Airmadidi Bawah, konon lokasi ini merupakan lokasi tempat mandi sembilan bidadari yang turun dari kayangan ke bumi. Di mana sebelum bumi didiami beribu-ribu tahun lalu, setiap selesai berburu, Mamanua selalu singgah di tempat pemandian itu. Nah, pada suatu hari, salah seorang pesuruh melapor pada Mamanua bahwa tempat pemandian itu kotor. Mamanua pun marah mendengar kabar itu. Karena penasaran siapa yang berani melakukan hal itu, Mamanua kemudian menelusurinya. Setelah menunggu di tempat tersembunyi dekat tempat pemandian itu, Mamanua akhirnya mendengar bunyi angin ribut dari arah timur. Bunyi angin itu semakin lama semakin mendekat. Saat itu juga tampak sekelompok burung balam putih berjumlah sembilan ekor di tempat pemandian. Kesembilan ekor burung itu kemudian berubah menjadi sembilan putri cantik bersayap putih. Selanjutnya sembilan putri itu melepas sayap mereka dan mandi di kolam itu. Lantaran penasaran dan rasa cinta pada putri-putri itu, Mamanua langsung menyembunyikan salah satu sayap putih itu. Calaka, sayap putri bungsu hilang sehingga ia tidak dapat terbang kembali kekayangan. Para putri lain pun tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong adik mereka yang bernama Lumalundung. Mamanua kemudian datang membujuk Lumalundung untuk tinggal bersamanya. Mamanua kemudian memperistrikan Lumalundung dan memperoleh anak yang diberi nama Walansendow. Waktu terus berjalan, suatu ketika saat Lumalundung sedang menyusui Walansendow, Mamanua melihat banyak kutu di kepala istrinya. Tanpa disuruh, Mamanua langsung mencari kutu, bahkan mencabut tiga helai rambut Lumalundung. Sebenarnya hal ini tidak boleh terjadi karena merupakan pantangan bagi Lumalundung. Bekas rambut yang tercabut itu langsung mengeluarkan darah tanpa henti. Mamanua bingung langsung berlari keluar rumah. Nah di saa itu Lumalundung menemukan sayapnya yang hilang. Lumaundung langsung memakainya dan terbang ke angkasa. Kepergian Lumalundung merupakan suatu kesedihan yang mendalam bagi Mamanua dan Walansendow.

Selasa, 24 Januari 2012

Benda Purbakala yang ditemukan di Desa Kaima, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara dan Bongkahan Batu-batu Rersusun Rapih dari Bangunan Purbakala di Perkebunan Desa Tumaluntung.